RSS

SWIM TEAM



REGU RENANG
(dari kumpulan cerpen Miranda July, No one belong here more than you)

                Inilah kisah yang tidak kuceritakan padamu saat kita masih pacaran. Kau terus bertanya dan bertanya, prasangkamu terdengar mengerikan dan kelewat lugas. Apa dulu aku perempuan simpanan? Apa Belvedere seperti Nevada, tempat di mana pelacuran dilegalkan? Apa aku telanjang sepanjang tahun? Kenyataan mulai terlihat tandus. Dan ketika tersadar kalau kejujuran terasa hampa, aku mungkin bukan pacarmu lagi.

                Aku tidak pernah mau menetap di Belvedere, tapi aku tidak bisa tidak meminta uang dari orang tuaku dan pindah. Tiap kali bangun pagi aku merasa terguncang mengingat kalau aku hidup sendirian di Kota Belverede yang bahkan bukan kota saking kecilnya. Hanya beberapa rumah dekat pompa bensin, lalu sekitar satu mil ke sananya, ada sebuah toko dan hanya itu. Aku tidak punya mobil, telepon, dan berusia dua puluh dua tahun saat itu, mengirimi orang tuaku surat tiap minggu dan bercerita tentang pekerjaanku di proyek yang disebut R.E.A.D. Kami meneliti resiko pada usia muda. Program itu dibiayai Negara, program pengendali. Aku tidak pernah mencari tahu singkatan dari R.E.A.D, tapi dalam tiap surat, aku menyebutnya “program pengendali”. Aku juga heran bisa menemukan frasa itu. Frasa bagus lainnya, “intervensi dini”.

                Ceritaku ini tidak akan panjang, karena di sepanjang tahun itu hampir tidak ada hal yang benar-benar menakjubkan. Penduduk kota Belvedere mengira namaku Maria. Aku tidak pernah mengatakan kalau namaku Maria, tapi entah bagaimana awalnya, aku sampai kewalahan menyebutkan nama sebenarnya pada tiga orang sekaligus. Tiga orang itu Elizabeth, Kelda, dan Jack Jack. Aku tidak tahu mengapa ada dua kali Jack, dan tidak terlalu yakin akan nama Kelda, tapi memang terdengar seperti itu, dan bunyi itu yang kukeluarkan saat memanggil namanya. Aku kenal orang-orang itu karena mengajari mereka berenang. Inilah inti ceritaku yang sebenarnya, karena tentu saja tidak ada sungai dekat Belvedere juga tidak ada kolam. Mereka membicarakan tentang renang di toko suatu hari, dan Jack Jack, yang mungkin sudah mati sekarang karena saat itu dia sudah sangat tua, berkata tidak masalah karena toh dia dan Kenda tidak bisa berenang, jadi besar kemungkinan mereka akan mati tenggelam. Elizabeth sepupu Kenda, kukira. Dan Kenda istri Jack Jack. Mereka berusia delapan puluh-an, atau lebih kurang. Elizabeth bilang, saat remaja dia pernah berenang beberapa kali pada musim panas ketika mengunjungi sepupunya (tentu saja bukan sepupu Kenda). Satu-satunya alasan aku bergabung dalam percakapan itu karena Elizabeth menyatakan biar bisa berenang kau harus bernapas di dalam air.

                Tidak benar, pekikku. Itu kalimat pertama yang kuucapkan keras-keras dalam minggu itu. jantungku berdebar kencang seperti ketika tengah mengajak seseorang berkencan. Kau justru menahan napas di dalam air.

                Elizabet terlihat marah lalu berkata kalau dia tengah bercanda.

                Kelda bilang dia sangat takut menahan napas sebab dia punya paman yang mati karena kelamaan menahan napas di kontes Tahan Napasmu.

                Jack Jack bertanya apa dia mempercayai itu, dan Kelda menjawab, ya, tentu saja, dan Jack Jack menimpali, pamanmu meninggal karena stroke, aku tidak tahu dari mana kau mendapat cerita itu, Kelda.

                Sejenak kami berdiri diam di sana. Aku menikmati obrolan itu dan berharap akan berlanjut terus, dan memang berlanjut karena Jack-jack berkata: Jadi kau bisa berenang.

                Aku bercerita pada mereka kalau aku pernah menjadi anggota regu renang di sekolah, bahkan mengikuti pertandingan tingkat nasional, tapi dikalahkan Bishop O’Down, murid sekolah Katolik, di babak awal. Mereka tampak sangat, sangat tertarik dengan ceritaku. Padahal aku tidak pernah menganggapnya penting sebelum ini, tapi sekarang aku tahu kalau sebenarnya itu cerita yang sangat menarik, penuh drama, klorin, serta hal lain yang tidak diketahui Elizabeth, Kelda dan Jack-jack. Kelda yang menyampaikan harapannya, seandainya ada kolam di Belvedere, karena kota ini sangat beruntung punya seorang pelatih renang. Aku tidak pernah mengatakan kalau aku seorang pelatih renang, tapi aku paham maksud Kenda. Tidak penting sebenarnya.

                Lalu terjadi hal aneh. Aku tengah memandang sepatuku dan lantai linoleum cokelat sambil berpikir dan bertaruh kalau lantai ini tidak pernah dibersihkan sejak ribuan tahun lalu, dan aku mendadak merasa akan mati. Alih-alih sekarat, aku malah berkata: aku bisa mengajari kalian caranya berenang. Dan kita tidak perlu kolam.

                Kami bertemu dua kali dalam seminggu di apartemenku. Saat mereka tiba, aku menyiapkan tiga mangkuk air keran hangat yang kususun berjajar di lantai, lalu mangkuk ke empat kutaruh di depan ketiga mangkuk itu, mangkuk pelatih. Aku menambahkan garam ke air karena kukira lebih sehat menenggak air garam hangat, dan bisa kutebak kalau mereka akan tersedak tanpa sengaja. Aku menunjukkan cara memasukkan hidung dan mulut mereka ke dalam air lalu cara mengambil napas ke samping mangkuk. Kemudian cara memasukkan kaki, dan tangan. Aku tahu ini memang bukan metode terbaik belajar berenang, tapi, aku menegaskan, cara ini yang dipakai perenang Olimpiade berlatih ketika tidak ada kolam di sekitar mereka. Ya ya ya, tentu saja itu bohong, tapi memang itu diperlukan karena kami berempat terlentang di atas lantai dapur, menendang-nendang keras seperti tengah marah, geram, kecewa dan frustasi dan tak segan-segan menunjukkannya. Perasaan seperti tengah berenang sungguhan harus dimunculkan lewat kata-kata penyemangat. Kelda butuh beberapa minggu untuk belajar cara memasukkan wajahnya ke dalam air. Tidak apa-apa, tidak apa-apa! Kataku. Kita mulai saja dengan papan latihan pengenalan air. Aku meminjamkannya buku. Normal kok melawan mangkuknya, Kelda. Tubuhmu lagi mengingatkanmu kalau dia belum mau mati. Bukan itu, sahut Kelda.

                Aku mengajari mereka semua gaya renang yang kutahu. Gaya kupu-kupu yang hebat, tidak pernah kau lihat yang seperti itu sebelumnya. Kukira lantai dapur akan menyerah dan berubah menjadi genangan air yang kemudian balik lagi menjadi lantai saat mereka bertiga pulang, dengan Jack Jack yang memimpin. Dia cepat berkembang, setidaknya bisa dikatakan begitu. Dia bergerak dan menyeberangi lantai, mangkuk air garam dan semuanya. Sambil memukul-mukul dia berbalik dari bagian kamar tidur ke dapur, penuh keringat dan debu, dan Kelda mengawasinya, sambil kedua tangannya memegang buku, dan mengarahkan. Seperti berenang untukku, kata Jack Jack, tapi Kenda terlalu takut, dan memang butuh kekuatan tubuh bagian atas untuk bisa berenang di lantai.

                Aku tipe pelatih yang berdiri di pinggir kolam dari pada ikut masuk ke dalam, tapi tentu saja aku juga sangat sibuk. Kalau bisa kukatakan tanpa menjadi kurang ajar, akulah pengganti air. Aku menjaga semuanya berjalan. Aku terus berbicara, seperti instruktur senam, dan aku meniup peluit dengan jarak waktu yang sama, memberi tanda di pinggiran kolam. Mereka akan serentak berputar dan berenang ke arah lain. Ketika Elizabet lupa menggunakan tangannya, aku akan mengingatkannya; Elizabeth! Kakimu naik, tapi kepalamu di bawah! Dan dia mulai mengayuh, dengan kecepatan tinggi. Dengan kecermatanku, berpedoman pada metode pelatihan, semua penyelam mulai dalam posisi sempurna, tenang dekat meja kerjaku, dan berakhir dengan perut yang tergeletak di ranjang. Tapi semua itu demi keamanan. Terus menyelam, menyingkirkan kebanggaan mamalia dan merangkul gravitasi bumi. Elizabeth menambahkan peraturan kalau kami harus bersuara saat terjatuh. Sedikit berlebihan bagiku, tapi aku terbuka terhadap inovasi. Aku ingin menjadi guru yang baik yang juga belajar dari murid-muridnya. Kelda akan bersuara seperti pohon jatuh, kalau pohon memang ada yang berjenis kelamin perempuan. Elizabet akan membuat “suara secara spontan” yang selalu terdengar sama, dan Jack Jack akan berkata, bom meledak! Di akhir pelajaran, kami semua akan mengeringkan tubuh dengan handuk dan Jack Jack akan menyalam tanganku dan Kelda atau Elizabeth akan memberiku makanan hangat, seperti kaserol atau spageti. Sebagai barteran, sehingga aku tidak perlu mencari pekerjaan lain.

                Pelajaran berlangsung dua jam dalam seminggu, tapi kami juga berlatih selain dua jam pelajaran itu. Pada selasa dan kamis pagi, aku bangun dan berpikir: latihan berenang. Pada pagi yang lain, aku bangun dan berpikir: tidak ada latihan renang. Saat aku bertemu dengan salah satu muridku di kota, semisal di pompa bensin atau toko, aku mengatakan hal seperti: sudah berlatih teknik bernapas? Dan mereka akan menjawab: aku sedang mencobanya, Pelatih!

                Memang susah buatmu membayangkan aku dipanggil pelatih. Aku punya identitas baru di Belvedere, itu sebabnya sulit sekali menceritakan ini padamu. Aku tidak punya pacar di sana; aku tidak membuat karya seni, aku bahkan tidak berjiwa seni sama sekali. Aku tipikal joki. Benar-benar joki—aku pelatih regu renang. Kalau dulu kutahu cerita ini menarik untukmu, aku akan bercerita sejak awal, dan mungkin kita masih berkencan sampai saat ini. Tapi tiga jam sudah berlalu sejak aku melihatmu di toko buku bersama perempuan bermantel putih itu. Kau terlihat sangat bahagia dan tergenapi, meski kita baru putus dua minggu yang lalu. Aku bahkan tidak yakin kita sudah putus sampai melihatmu bersama perempuan itu. Kau terlihat sangat jauh, seperti seseorang yang berada di seberang danau. Titik yang sangat kecil yang tidak bisa kubedakan antara laki-laki atau perempuan, tua atau muda; dan dia tersenyum. Siapa yang kurindukan sekarang, malam ini? Aku merindukan Elizabeth, Kelda, dan Jack Jack. Mereka telah mati, aku sangat yakin tentang ini. Sungguh perasaan sedih yang luar biasa. Mungkin aku pelatih renang paling menyedihkan di sepanjang sejarah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TROUBLING LOVE

BAB 1

I
 buku tenggelam di laut pada 23 Mei malam, di hari ulang tahunku, di daerah bernama Spaccavento, beberapa mil dari Minturno. Akhir tahun 50an, saat ayah masih tinggal bersama kami, kami menyewa kamar di rumah pertanian dekat daerah itu dan menghabiskan sepanjang bulan Juli di sana, kami berlima tidur di dalam kamar empat persegi yang sangat panas. Tiap pagi para gadis minum puding telur yang baru diambil dari kandang, pergi ke laut melewati setapak kotor dan berpasir di antara alang-alang untuk berenang. Pada malam ibuku meninggal, pemilik rumah, yang dipanggil Rosa, berusia tujuh puluh tahun lebih, mendengar seseorang mengetuk pintu, tapi karena takut kalau-kalau itu pencuri atau pembunuh, tidak membukakannya.


Ibuku naik kereta tujuan Roma dua hari sebelumnya, pada 21 Mei, tapi tidak pernah tiba. Akhir-akhir ini, dia kerap datang dan tinggal bersamaku beberapa hari, minimal sekali dalam sebulan. Aku tidak suka akan kehadirannya di rumah. Dia bangun saat subuh dan, seperti biasa, membersihkan dapur dan ruang tamu dari atas sampai bawah. Aku mencoba tidur lagi, tapi tak bisa: terbaring kaku dalam seprai, kurasa kesibukannya telah mengubah tubuhku menjadi anak-anak berkerinyut. Saat dia masuk kamar dengan secangkir kopi, aku beringkuk ke sisi yang tidak bisa dijangkaunya bila duduk di pinggir ranjang. Keramahannya membuatku jengkel: dia pergi berbelanja dan berkenalan dengan para penjaga toko yang selama sepuluh tahun ini berbicara padaku tak lebih dari dua kata; dia jalan-jalan menyusuri kota bersama orang yang baru dikenalnya; berteman dengan teman-temanku, dan menceritakan kehidupannya pada mereka, cerita yang selalu berulang. Aku, yang bersamanya, cuma bisa menjauhkan diri dan berpura-pura tidak mendengar.


Begitu menyadari isyarat ketidaksukaanku, dia pun pulang ke Naples. Dia mengumpulkan semua barangnya, merapikan rumah sekali lagi, dan berjanji akan datang lagi. Aku menyusuri tiap sudut rumah, menyusun ulang semua barang yang ditatanya sesuai keinginanku lagi. Aku menaruh tempat garam di rak biasa aku menyimpannya bertahun-tahun, mengembalikan deterjen ke tempat yang bisa kutemukan dengan cepat, memberantakin laci-laci, dan mengacaukan lagi ruang kerjaku. Dan pelan-pelan bau kehadirannya—wangi yang tertinggal di dalam rumah menguarkan kegelisahan—lenyap, seperti bau gerimis sebentar di musim semi.


Dia selalu ketinggalan kereta. Biasanya dia tiba sehari bahkan dua hari setelahnya, tapi aku tetap saja tidak terbiasa dan selalu mengkhawatirkannya. Aku meneleponnya dengan cemas. Ketika mendengar suaranya, aku mengomelinya dengan kasar: kenapa tidak memberitahuku begitu berangkat? Dia minta maaf tanpa merasa menyesal sedikit pun, malah bertanya geli, hal buruk apa yang bisa menimpanya, di usianya yang sekarang. “Banyak,” jawabku. Aku selalu membayangkan benang menjerat ibuku, menjalin lalu melenyapkannya dari dunia ini. Saat masih kecil, aku menghabiskan waktu menungguinya di dapur, di pinggir jendela. Aku menunggu kemunculannya di ujung jalan seperti sosok dalam bola kristal. Aku mengembuskan napas di kaca, membuat kabut, sehingga tak bisa melihat jalan yang tidak ada dia. Kalau ibuku terlambat pulang, kegelisahanku menjadi-jadi, meluap menjadi getaran ke sekujur tubuh. Aku pun berlari ke gudang—yang tidak berjendela dan berlampu—di samping kamarnya dan kamar ayah. Aku menutup pintu dan duduk diam dalam gelap, menangis. Kamar kecil itu penawar yang mujarab. Membangkitkan ketakutan yang bercokol dalam ceruk kegelisahan akan nasib ibuku. Dalam gelap pekat, tercekik bau DDT, aku disergap cahaya warna-warni yang selama beberapa detik menyambar biji mataku dan membuatku megap-megap. “Kalau kau pulang, aku pasti membunuhmu,” pikirku, seolah-olah dia yang membiarkanku terkunci di sana. Tapi kemudian, begitu mendengar suara ibuku di depan, aku segera bangkit dan mendekatinya, seolah tidak terjadi apa-apa. Gudang itu berkelebat lagi di pikiran saat kutahu dia pergi pada waktu biasa tapi tak pernah tiba.


Sore hari aku mendapat telepon pertama. Ibuku bilang dengan suara tenang kalau dia tak bisa bercerita padaku saat ini: ada laki-laki yang melarangnya. Lalu dia mulai tertawa dan menutup telepon. Awalnya aku bingung. Kupikir dia tengah bercanda, dan menunggu telepon ke dua darinya. Pada akhirnya aku menghabiskan waktu berjam-jam dalam kebingungan, duduk sia-sia di samping telepon. Lewat tengah malam, aku menelepon seorang teman yang berprofesi sebagai polisi: dia sangat baik dan berkata agar aku jangan terlalu cemas, dia yang akan mengurus masalah itu. Tapi malam berlalu tanpa kabar apa pun dari ibuku. Hal yang pasti hanya waktu keberangkatannya: Signora De Riso, tetangga mama, seorang janda seusia ibuku, yang selama lima belas tahun ini bolak balik bertengkar lalu berbaikan lagi, memberi tahu lewat telepon kalau dia yang mengantar ibu ke stasiun.  Ketika ibuku mengantri membeli tiket, perempuan itu membelikannya sebotol minuman dan majalah. Kereta hampir penuh tapi ibuku berhasil mendapat tempat, dekat jendela, berdesak-desakan dalam kompartemen bersama para tentara yang juga berangkat. Mereka berpamitan, dan saling mengingatkan untuk berhati-hati. Dia memakai apa? Seperti biasa: rok biru dan jaket, tas tangan kulit warna hitam yang tua, sepatu bertumit rendah, dan koper pakaian.


Pukul tujuh pagi ibu menelepon lagi. Meski aku melontarkan berbagai pertanyaan (“Kau di mana? Dari mana kau menelepon? Bersama siapa?”), dia malah menjaga jarak, dengan suara meninggi, serangkaian kata cabul dalam dialeknya, menjawab tiap pertanyaanku dengan santai. Lalu dia menutup telepon. Kata-kata kotor itu membuatku tak tenang. Aku menelepon temanku lagi, membuatnya kebingungan dengan campuran bahasa lokal dan Italia. Dia bertanya apa ibuku mengalami depresi belakangan ini. Aku tidak tahu. Memang sikapnya tidak seperti dulu—tenang, memikat dan lemah lembut. Sekarang ibuku suka tertawa tanpa sebab, juga terlalu banyak berbicara; tapi orang tua memang selalu bertingkah begitu. Temanku sependapat: begitu cuaca mulai hangat, orang-orang tua sering melakukan hal-hal aneh; tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi aku tetap khawatir, lalu menyusuri kota, mencari tahu tempat-tempat yang sering didatanginya.


Telepon ke tiga berbunyi pada pukul sepuluh malam. Ibu berbicara tidak keruan tentang laki-laki yang membututinya dan ingin menculiknya terbungkus ambal. Dia memintaku datang secepatnya dan menolongnya. Aku meminta ibuku memberitahu posisinya saat ini. Tapi mendadak dia mengubah nada suaranya, berkata kalau aku lebih baik tidak datang. “Kunci pintumu, jangan buka untuk siapa pun,” nasehatnya padaku. Laki-laki itu akan melukaiku, juga. Lalu dia menambahkan: “Pergilah tidur. Aku mau mandi sekarang.” Itu saja.


Dua hari kemudian dua anak laki-laki melihat tubuh ibuku mengambang beberapa yar dari pantai. Dia hanya mengenakan bra. Kopernya tidak ditemukan. Kemeja birunya hilang. Pakaian dalam, kaus kaki, sepatu, tas tangan, dan identitasnya yang lain, juga tak ditemukan. Tapi cincin pertunangan masih melekat di jarinya begitu juga cincin pernikahannya. Anting di telinganya, pemberian ayahku setengah abad yang lalu juga masih ada.

          Aku menatap tubuh yang membiru itu, berpikir lebih baik mengambilnya agar jangan dibawa ke tempat yang tidak kuketahui.  Dia tidak diperkosa. Di tubuhnya hanya ada beberapa memar, itu pun karena hempasan ombak, meski arus kecil, tapi terus menghempas tubuhnya ke bebatuan dalam air sepanjang malam. Kulihat di sekitar matanya sisa-sisa riasan tebal. Aku mengamatinya lama sekali, dengan gelisah, kakinya, kulit coklatnya , juga riasannya yang kelihatan terlalu muda untuk seorang perempuan berusia enam puluh tiga tahun. Dengan kegelisahan yang sama aku tersadar kalau branya yang dipakainya berbeda dari yang biasa. Cupnya terbuat dari renda yang dijahit rapi dan menampakkan bayangan putingnya. Keduanya terjalin dengan tiga sulaman “V”—label toko Neapolitan yang menjual pakaian dalam wanita termahal di kota ini—untuk Vossi bersaudara. Saat bra itu diberikan padaku, bersama anting dan cincinnya, aku mengendusnya lama sekali. Bau kain baru tercium tajam sekali.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TROUBLING LOVE

BAB 3



A
ku tiba di pemakaman tepat ketika peti jenazah diturunkan ke liang lahad kelabu, lalu ditimbun tanah.  Saudari-saudariku pergi begitu penguburan selesai, naik mobil, bersama suami-suami dan anak-anak mereka. Mereka tidak sabar ingin pulang dan melupakan semuanya. Kami berpelukan dan berjanji akan saling mengunjungi dalam waktu dekat, tapi kami tahu, itu takkan pernah terjadi. Hal yang paling sering kami lakukan, dari waktu ke waktu, hanya saling menelepon, untuk mengukur peningkatan jarak kerenggangan kami dari sebelumnya. Bertahun-tahun kami bertiga tinggal di kota yang berbeda, masing-masing dengan kehidupannya sendiri dan masa lalu yang sama-sama tidak kami sukai. Di pertemuan yang jarang terjadi kami memilih menyimpan hal-hal yang seharusnya kami bicarakan bersama.

                Ditinggal sendirian, kukira Paman Filippo akan mengajakku ke rumahnya, tempat aku menginap beberapa hari sebelumnya. Ternyata tidak. Tadi pagi memang kukatakan kalau aku akan ke apartemen ibuku, mengambil barang-barang yang bernilai sentimentil, membatalkan penyewaan, memutus listrik, gas, dan telepon; dan dia mungkin berpikir tidak ada gunanya mengajakku lagi. Dia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal,  terbungkuk-bungkuk, dengan kaki diseret, letih oleh usia dan setumpuk dendam kesumat yang membuatnya memuntahkan makian yang berlebihan.


                Jadi aku ditinggalkan di jalanan. Kerumuman kerabat pulang ke tempat masing-masing. Ibuku dikuburkan oleh pengurus makam yang kurang ajar di dasar liang berbau paraffin dan kembang-kembang busuk. Punggungku terasa sakit dan perutku kram. Dengan malas aku memutuskan untuk: berjalan sepanjang tembok Botanic Garden yang panas membara ke Piazza Cavour, dengan udara yang terasa lebih pekat karena asap knalpot mobil dan dengung bahasa setempat yang kusimak dengan enggan. 


                Itu bahasa ibuku, yang susah payah kulupakan tapi sia-sia, bersama banyak hal yang mengingatkanku tentangnya. Saat bertemu di rumahku, atau aku yang datang ke Naples—tidak lama, hanya kunjungan setengah hari—dia berusaha keras menggunakan bahasa Italia yang kaku, dan, dalam kejengkelan—hanya untuk membantunya—aku pun ikut-ikutan. Bukan dialek yang menyenangkan dan memunculkan perasaan rindu, tapi logat yang tidak natural, diucapkan terbata-bata, lafal yang kaku, serupa bahasa asing yang hampir tidak dikenali. Suara yang kuucapkan dengan gelisah merupakan gema dari perselisihan hebat antara Amalia dan ayahku, antara ayah dan kerabat ibu, antara ibu dengan kerabat ayah. Aku jadi tidak sabar. Lalu kembali menggunakan bahasa Italia dan ibu tetap dengan dialeknya. Sekarang dia telah meninggal dan aku bisa menyingkirkan dialek itu selamanya, bersama kenangan di dalamnya, dan mendengar dialek itu sekarang memunculkan kecemasan. Tapi aku menggunakan bahasa itu saat membeli Pizza Fritta berisi ricotta. Setelah berhari-hari hanya makan sedikit, aku pun memakannya dengan nikmat, sambil memutari taman-taman tak terpelihara dengan pohon-pohon oleander kering, dan mengamati kelompok-kelompok lansia. Lalu lintas ramai yang dengan manusia dan mobil dekat taman membuatku memutuskan untuk pergi ke apartemen ibuku.


                Apartemen Amalia berada di lantai empat gedung tua yang dikelilingi pilar. Gedung itu salah satu gedung terbesar di pusat kota yang sebagiannya kosong di malam hari dan selama siang hari ditempati pegawai-pegawai yang bertugas memperbarui lisensi, berburu sertifikat rumah atau kelahiran, mengecek komputer untuk reservasi atau tiket di pesawat, kereta, dan kapal, membuat naskah polis asuransi kehilangan, kebakaran, penyakit, kematian, atau menyusun laporan keuangan yang rumit. Jumlah penyewa biasa sangat sedikit, tapi ketika ayahku, berusia awal dua puluhan—saat Amalia berkata kalau dia ingin berpisah, dan kami anak-anak perempuannya sangat mendukung keputusan itu—mengusir kami berempat keluar dari rumah, dengan sedikit keberuntungan, kami bisa mendapatkan salah satu apartemen di gedung itu untuk disewa. Aku tak pernah menyukainya. Gedung itu membuatku tak tenang, bentuknya seperti penjara, pengadilan, atau rumah sakit. Ibuku justru menyukainya: menurutnya gedung itu mengagumkan. Pada kenyataannya gedung itu jelek dan kumuh, menurun ke arah pintu luar yang besar, yang selalu dibuka paksa tiap pengawas memperbaiki kuncinya. Panelnya berdebu, menghitam karena asap pembuangan, dengan kenop kuningan besar yang belum pernah dipelitur sejak awal peradaban. Sepanjang hari, selalu ada yang berdiri di lorong panjang yang mengarah ke taman di dalam gedung: pelajar, orang-orang yang menunggu bus yang berhenti tak jauh dari situ, penjual keliling yang menjajakan pemantik, tisu, jagung bakar, atau chestnut panggang, turis yang berteduh saat terik atau hujan, dan orang-orang bermuka masam dari segala ras yang tenggelam dalam renungan tak habis-habis yang terlihat di jendela di sepanjang kedua tembok gedung itu. Biasanya orang-orang itu menghabiskan waktu menunggui siapa pun yang datang melihat-lihat foto-foto seni karya fotografer tua yang mempunyai studio di gedung itu: mempelai laki-laki dan mempelai perempuan dalam balutan busana pernikahan, tersenyum, gadis yang berkilauan, muda-mudi berseragam dengan ekspresi kurang ajar. Tahun-tahun sebelumnya foto jenis paspor kepunyaan Amalia dipajang di sana selama beberapa hari. Aku sendiri sudah mengingatkan si fotografer untuk mencabutnya, sebelum ayahku lewat, mengamuk dan memukul jendela.


                Aku melintasi taman dalam gedung itu dengan mata tertunduk dan langkah pendek-pendek hampir berlari menuju ke pintu kaca tangga B. Penjaga pintu tidak ada dan aku bernapas lega. Aku masuk ke elevator dengan cepat. Cuma itu tempat yang aku sukai dari seluruh bangungan ini. Biasanya aku tidak menyukai patung sarcophagi baja yang naik dengan cepat atau meluncur secepat kau menekan tombolnya, dan membuat lubang dalam perutmu. Tapi elevator yang ini dinding panelnya terbuat dari kayu, dan pintu kaca dengan ornamen arabesque di pinggirnya dan pegangan dari kuningan halus, dua bangku panjang kayu yang saling berhadapan, cermin, dan lampu remang; bergerak naik turun dengan konser suara derit, di tempat yang tenang. Kotak koin dari abad ke lima puluh—dengan perut lebar dan paruh melengkung ke atas, siap menelan uang kembalian—memancarkan lenguh metalik di setiap lantai. Meski belakangan ini gerbong elevator disetel bergerak hanya dengan menekan tombol, tapi kotak koin itu tetap terpancang sia-sia di kanan dan kiri dinding. Saat elevator berhenti di ruangan tua yang hening, kotak itu, dengan kehampaannya yang asing, tidak menggangguku.


                Aku duduk di bangku dan melakukan—selayaknya seorang gadis—hal yang selalu kulakukan untuk menenangkan diri: bukannya menekan tombol angka 4 di elevator itu, aku malah naik ke lantai 6. Ruangan itu telah kosong dan gelap selama bertahun-tahun, tepatnya sejak pengacara yang berkantor di sana pindah, dan membawa semuanya termasuk bola lampu dari plafon tangga. Saat elevator berhenti, napasku tergelincir ke perut lalu pelan-pelan kembali ke tenggorokan. Seperti biasa, setelah beberapa menit, cahaya dari elevator menghilang juga. Aku berpikir meraih salah satu kenop pintu: kau hanya perlu menariknya dan cahaya akan masuk ke tempat ini lagi. Tapi aku tak bergerak sama sekali dan terus menghela napas dalam-dalam ke seluruh tubuh. Satu-satunya suara hanya bunyi rayap yang memakan dinding-dinding berpanel.


                Beberapa bulan sebelumnya (lima atau enam bulan?), mendadak tergerak hati, memberitahu ibu—pada waktu kunjungan singkatku—kalau saat remaja aku sering mengasingkan diri di tempat rahasia itu, dan aku membawanya ke sana, ke lantai teratas. Mungkin aku mencoba membangun kedekatan yang tak pernah ada di antara kami, mungkin juga aku ingin dia tahu meski dengan cara yang membingungkan kalau aku sering merasa tidak bahagia. Tapi dia malah tertawa geli membayangkan aku duduk mencangkung dalam kekosongan, dalam sebuah elevator yang bobrok.


                “Pernahkah kau, di sepanjang tahun ini, punya pacar?” Kemudian aku bertanya padanya, saat itu juga. Maksudku, apakah dia memiliki kekasih, setelah berpisah dengan ayahku? Memang itu pertanyaan paling ganjil, di antara pertanyaan-pertanyaan yang pernah kuajukan semenjak kanak-kanak. Tapi  tubuhnya, yang jarak duduk kami hanya beberapa inchi di bangku kayu itu, menunjukkan kegelisahan. Tapi tidak dengan suaranya, yang menjawab dengan tegas dan jelas: tidak. Tak ada satu pun tanda yang menunjukkan kalau dia tengah berbohong. Dan aku pun tidak meragukannya. Tapi dia berbohong.


                “Kau punya kekasih,” kataku, dingin.


                Reaksinya terasa berlebihan dibanding kemampuannya mengendalikan diri seperti biasa. Dia menarik gaunnya setinggi pinggang, memperlihatkan dalaman model pinggang yang longgar berwarna merah jambu. Tergelak, dia mengatakan hal yang membingungkan tentang daging lunaknya, perut kendornya, berulang-ulang, “Coba sentuh,” lalu menarik salah satu tanganku dan meletakkannya di atas perut putihnya yang menggelambir.


                Aku menarik tanganku dan meletakkannya dekat jantung untuk meredakan detaknya yang cepat. Ibuku membiarkan keliman gaunnya jatuh, tapi lututnya masih terlihat, tampak kuning tertimpa cahaya elevator. Aku menyesal membawanya ke tempat persembunyianku. Dan aku ingin dia segera menurunkan gaunnya. “Keluar,” kataku padanya. Dan dia pun keluar: ibuku tak pernah berkata tidak padaku. Satu langkah di luar pintu elevator yang terbuka lalu dia lenyap dalam kegelapan. Sendirian dalam gerbong, aku merasa damai. Dengan gerak tubuh tak berbayang, aku menutup pintu. Tak berapa lama cahaya dari elevator pun lenyap.


                “Delia,” bisik ibuku, tak gelisah. Dia tak pernah menunjukkan kegelisahan akan kehadiranku, bahkan dalam kondisi yang tampak menggelisahkan bagiku, di luar kebiasaan, bukannya mencari ketenangan hati, dia malah ingin menenteramkan hatiku.


                Aku duduk beberapa lama sambil mendengar namaku seperti pantulan suara dalam ingatan, keniskalan yang menggema tanpa suara di kepala seseorang. Suara itu, terdengar olehku, datang dari masa lampau, saat ibu mencariku di seluruh sudut rumah dan tak menemukanku.


                Sekarang aku berada di sana dan berupaya menghapus kenangan dari gema-gema itu. Tapi aku merasa tidak sendirian. Aku diamati, bukan oleh Amalia beberapa bulan lalu yang sekarang telah meninggal tapi oleh “diriku” yang muncul dari plafon dan melihatku duduk di sana. Aku membenci diriku ketika perasaan itu muncul. Aku malu menemukan diriku terdiam di gerbong usang itu, duduk mencangkung di antara kegelapan dan kekosongan, seolah bersembunyi dalam sarang di cabang pohon, dengan ekor panjang kabel baja yang menjuntai letih dari badan elevator. Aku mengulurkan tangan ke arah pintu dan mencari-cari pegangan pintu. Kegelapan tertinggal di luar pintu kaca berornamen arabesque.

              Aku selalu mengetahuinya. Ada garis yang tidak bisa kulewati saat memikirkan Amalia. Mungkin aku berada di sana agar bisa melintasinya. Dan itu menakutkanku. Aku menekan tombol berangka 4 dan elevator terhentak tanpa suara. Berkeriut, lalu perlahan turun menuju apartemen ibuku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Pengharapan tidak pernah Mengecewakan. Tetap Semangat!