RSS

INCENDIES

PEREMPUAN MENGGUGAT

Director: Denis Villeneuve
Producers: Luc Déry Kim, McCraw
Screenplay: Denis Villeneuve, Valérie Beaugrand-Champagne 
Starring: Lubna Azabal, Mélissa Désormeaux-Poulin, Maxim Gaudette, Rémy Girard, Allen Altman
Cinematography: André Turpin








Agama dan sosial. Entah mengapa kedua hal tersebut saling berbenturan. Sejarah mencatat banyak perang besar berkecamuk dipicu agama. Agama dalam pikiran manusia adalah kotak-kotak, dan Tuhan diperebutkan demi melegitimasi tindakan yang terkadang tidak menunjukkan bahwa mereka beragama.

Incendies, film besutan Sutradara asal Kanada ini mengangkat konflik tersebut. Film mindfucking yang berhasil membuat saya tidak tenang ini meski menggunakan setting antah berantah bisa dengan mudah saya tebak kalau  ini terjadi di Lebanon, tepatnya ketika perang sipil pecah.

Saya terpesona pertama kali dengan David Villeneuve lewat film Sicario.  Adegan fenomenal baku tembak di jembatan tol sampai kapan pun akan terus melekat ke sutradara Kanada itu. Setelahnya saya berburu karya-karyanya yang lain. Prisoner, film kedua Villeneuve yang meski tidak bisa dikatakan buruk namun tak mampu mengimpresi saya. Saya tidak berhasil menemukan adegan ikonik yang membuat saya merayakannya berhari-hari seperti Sicario. Saya sempat takut terserang efek Hong Sang Hoo—sutradara korea—yang terpesona di film pertama kemudian merasa muak di judul-judul selanjutnya. Hoo sepertinya tidak menggubris kemungkinan penonton bakal mati kebosanan karena disuguhi konflik yang sama atau karakter serupa, atau mungkin dia memang tengah terkena sindrom megalomania (Maaf buat para penggemar, tapi karakter si dosen jurusan perfilman itu selalu ada, dan sepertinya semua film memang bercerita tentang hidup si dosen yang merepresentasi dia). Atau jangan-jangan saya terlalu memasang standar tinggi untuk Villeneuve?  Dan terima kasih kepada sekalian alam, ternyata itu tidak tidak terjadi. Sekali lagi, Villeneuve memesona saya lewat Incendies.

INCENDIES= API
Salah satu adegan dalam Incendies yang membuat saya tidak tenang adalah adegan pembantaian penumpang dan kobaran nyala api yang mengkremasi seluruh jenazah di dalam bus itu. Incendies berasal dari Bahasa Perancis, yang artinya Api. Adegan “Percakapan” singkat tanpa kata-kata antara Nawal dengan perempuan di dalam bus, lalu anak kecil yang berlari ke arah bus yang terbakar sambil memanggil-manggil ibunya berhari-hari bercokol di pikiran saya. Menyentuh. Emosional dan though provoking.

 
Incendies bermakna api.

Incendies diangkat dari drama teater hasil karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, bercerita tentang pencarian saudara laki-laki si kembar Jeanne dan Simon di Timur Tengah demi memenuhi wasiat ibu mereka, Nawal Marwan. Simon shock mendengar permintaan “tidak biasa” di surat ibunya dan menolak mentah-mentah, termasuk menguburkannya tanpa kafan, tanpa doa-doa, dengan tubuh menelungkup, sebagai simbol selama ini dia “bermusuhan” dengan dunia. Simon menganggap permintaan tersebut tidak masuk akal dan sepantasnya dilupakan. Namun Jeanne meski tidak terima memutuskan pergi ke Timur Tengah dan mencari saudara lelaki mereka untuk menyerahkan surat terakhir ibunya. Perjalanan tersebut mengungkapkan banyak fakta yang benar-benar menggoncang kenyamanan Jeanne selama ini. Terdengar klise ya? Well, tapi di tangan dingin Villeneuve keklisean itu disulap menjadi film beralur maju-mundur yang mengusik akal dan nurani.

Film ini menggunakan dua sudut pandang yang bergantian. Setelah adegan membaca surat wasiat itu, chapter selanjutnya berjudul “Nawal” yang bercerita tentang kehidupan perempuan bernama Nawal Marwan, beragama Kristen dan jatuh cinta pada lelaki Arab beragama Muslim. Mereka berencana kabur namun di tengah perjalanan bertemu dengan saudara laki-laki Nawal yang marah dan membunuh kekasih Nawal. Nawal diseret pulang, disembunyikan di rumah neneknya karena dianggap menimpakan aib bagi keluarga dan agama mereka. Sampai akhirnya Nawal melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu diberi tato dua titik di tumit kanannya, kemudian dibawa pergi oleh perempuan tak dikenal. Nawal menyimpan janji dalam hatinya akan mencari anaknya itu kelak. Setelahnya, Nawal diungsikan ke rumah pamannya di kota untuk kuliah. Di sana dia aktif dalam organisasi yang menentang partai nasionalis membantai umat muslim yang bermukim di wilayah selatan. Suasana saat itu memanas. Demonstrasi dan pemberontakan bergolak mengharuskan Nawal dan Pamannya sekeluarga mengungsi. Nawal memutuskan untuk tidak ikut dan menyelinap keluar saat malam hari untuk mencari anaknya ke wilayah selatan. Anak laki-laki itulah yang mesti ditemukan oleh Jeanne dan Simon.

Adegan pembuka. Lihat mata itu. Penuh api kemarahan.
Balutan visualisasi yang indah dan puzzle-puzzle misteri lewat alur maju mundur membuat film berdurasi  panjang ini sama sekali tidak membosankan. Dan adegan-adegan menyentuh dan emosionil membuat film ini berhak menjadi pemenang oscar dalam kategori Best Foreign Movie. Well, Villeneuve resmi menjadi salah satu sutradara kesukaan dalam daftar kecil saya.

PENUTUP
Andai saja agama cuma satu, apakah perang-perang yang membunuh jutaan manusia itu tidak akan pernah terjadi? Atau justru lebih parah dari yang terjadi sekarang? Ah, saya jadi teringat dengan diskusi bersama seorang teman tempo dulu. Pengkotak-kotakan membuat manusia lupa untuk memandang hakikat orang lain sama dengan dirinya sendiri. Akankah terus berjatuhan Nawal-Nawal yang lain?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Pengharapan tidak pernah Mengecewakan. Tetap Semangat!